Dunia fashion Muslim di kalangan pelajar sekolah berasrama (boarding school) kini sedang mengalami pergeseran gaya yang cukup radikal dan futuristik. Munculnya tren baju koko ‘cyberpunk‘ menjadi perbincangan hangat setelah para siswa mulai memamerkan seragam ibadah mereka yang mengombinasikan unsur tradisional dengan estetika teknologi modern. Alih-alih menggunakan motif bordir klasik, baju koko ini menampilkan detail ritsleting asimetris, bahan teknis tahan air, serta aksen garis-garis neon minimalis yang memberikan kesan tangguh namun tetap sangat sopan. Gaya ini mencerminkan identitas generasi Z yang melek teknologi namun tetap ingin menjaga nilai-nilai religius dalam berpakaian saat merayakan momen spesial seperti Lebaran.
Penggunaan desain baju koko ‘cyberpunk’ ini sebenarnya berawal dari keinginan para siswa untuk tampil beda dan lebih praktis dalam menjalankan aktivitas harian di asrama yang padat. Bahan yang digunakan biasanya lebih ringan dan memiliki sirkulasi udara yang baik, sangat cocok dengan cuaca Indonesia yang tropis serta mobilitas tinggi para siswa dari asrama ke masjid. Beberapa desainer muda lokal mulai melirik potensi ini dengan menyematkan fitur kantong multifungsi yang bisa digunakan untuk menyimpan gawai atau perangkat digital lainnya tanpa merusak siluet pakaian. Tren ini membuktikan bahwa pakaian ibadah pun dapat bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi kemuliaannya sebagai penutup aurat yang elegan.
Respons netizen terhadap viralnya baju koko ‘cyberpunk’ di kalangan siswa boarding ini sangatlah beragam, mulai dari pujian atas kreativitasnya hingga rasa penasaran tentang di mana bisa membelinya. Banyak konten kreator fashion yang memprediksi bahwa gaya ini akan menjadi kiblat baru pakaian Muslim pria di masa depan yang lebih fungsional dan berkarakter. Para orang tua siswa pun banyak yang mendukung tren ini karena anak-anak mereka terlihat lebih percaya diri dan tetap rapi saat menjalankan ibadah harian maupun saat menyambut tamu di hari raya. Viralitas ini secara tidak langsung juga mengangkat pamor industri kreatif lokal yang berani melakukan eksperimen desain pada pakaian-pakaian bertema religi.